RSS

Naskah Drama Bawang Merah Bawang Putih

Dahulu kala, ada sebuah desa yang bernama Desa “BUMBU”. Desa ini sangat subur, pepohonan lebat tumbuh di sana, air yang melimpah dan jernih mengalir dari sungai di desa ini. Penduduknya pun hidup makmur dan sangat ramah. Di desa di hilir sungai ini tinggalah sebuah keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Keluarga tersebut adalah Ayah Bawang, Ibu bawang daun, dan putrinya, Bawang putih. Ayah Bawang bekerja di lapak miliknya di pasar. Bawang Putih sendiri adalah seorang anak yang baik, dia rajin dan selalu membantu orang tuanya. Keluarga ini sangat harmonis. Berbeda dengan tetangganya yang bernama Bawang Merah, dia sangat malas dan manja. Dia hanya hidup bersama Ibunya karena ayahnya sudah lama meninggal.

 

(di teras rumah – pagi hari)

Ayah Bawang               : istriku

Ibu Bawang Daun        : iyaaa

Ayah bwang                 : Ayah pamit kerja ya

Ibu bawang Daun         : Iya suamiku

Ayah Bawang               : loh, mana putri kita si putih?

Ibu Bawang Daun        : nah itu dia lagi nyapu di depan, putiih…

Bawang Putih               : ada apa ibu?

Ibu Bawang Daun        : itu nak ayahmu mau pamit kerja, ayah jadi berangkat sekarang?

Ayah Bawang               : iya bu, kalian hati-hati di rumah ya

Ibu Bawang Daun        : oh iya yah, nanti Putih akan mengantarkan makan siang ayah.

Ayah Bawang               : baiklah, ayah tunggu nanti siang. kalo begitu ayah pergi dulu ya..assalamualaikum. (salim)

Ibu Bawang Daun + Bawang Putih    : waalaikumsalam.

 

Ayah bawang putih pun pergi ke pasar. Dia berjualan di lapak miliknya. Tinggallah bawang putih dan ibunya di rumah tersebut. Karena tidak tega melihat ibunya yang sedang sakit itu mencuci di sungai, bawang putih pun menggantikan ibunya.

 

Ibu Bawang Daun        : Putih, ibu mau mencuci baju di sungai. Kamu jaga rumah ya nak…

Bawang Putih               : biar Putih saja buk yang pergi ke sungai, ibu di rumah saja.

Ibu Bawang Daun        : tapi nak…

Bawang Putih               : tidak apa-apa bu, ibu istirahat saja di rumah.

Ibu Bawang Daun        : kau memang anak yang sangat baik, ibu bangga punya anak sepertimu (membelai Bawang Putih)

Bawang Putih               : Putih juga senang punya orang tua seperti ayah dan ibu (memeluk ibunya)

Ibu Bawang Daun        : ibu sayang sekali sama kamu nak. Ya sudah, pergilah sebelum matahari terlalu terik.

Bawang Putih               : baiklah bu, Putih ambil baju kotornya dulu. (mengambil baju kotor)

Ibu Bawang Daun        : iya nak.

Bawang Putih               : Putih pergi dulu bu, assalamualaikum.

Ibu Bawang Daun        : waalaikumsalam, hati-hati di jalan. Putih…putih tidak terasa kini kau telah tumbuh      dewasa. Cantik, baik, dan berbakti pada orang tua. Betapa bahagianya aku. Terima kasih Tuhan, dia adalah anugerah terindah dalam hidup hamba.

 

Bawang putih pun pergi ke sungai untuk mencuci. Ternyata bawang merah dan ibunya sudah mengintai dari balik pohon dan merencanakan hal buruk.

 

Ibu Bawang Merah       : hahaha. bagus, Ini saatnya kita menjalankan rencana anakku.

Bawang Merah             : benar mah ! ayo cepat mumpung ibu bawang daun lagi sendirian tuh!

 

Akhirnya bawang merah dan ibunya datang ke rumah bawang putih dengan membawa kue yang telah dicampur dengan racun.

 

Ibu Bawang Merah       : selamat pagi bu.

Ibu Bawang Daun        : eh ibu, selamat pagi.

Ibu Bawang Merah       : Lagi sendirian ya? Kemana si putih?

Ibu Bawang Daun         : si putih sedang mencuci baju di sungai. Oh iya ngomong-ngomong ada apa ibu datang kemari?

Bawang Merah             : ini loh bik, kami bawakan kue yang sangaaat enak!

Ibu Bawang Daun        : wah ada acara apa ini?

Ibu Bawang Merah       : tidak ada acara apa-apa sih buk. Kebetulan saya lagi mencoba resep baru.

Ibu Bawang Daun        :  sepertinya enak sekali ya bu. Terima kasih ya. Ayo buk, mari kita makan bersama.

Bawang Merah             : oh tidak- tidak bik, terima makasih, tadi kami sudah makan di rumah. Yang ini kta bawakan khusus untuk bibik.

Ibu Bawang Daun        : oh, begitu. Sekali lagi terima kasih yaa

Bawang Merah             : sama- sama

Ibu Bawang Merah       : yasudah buk, kalo begitu kita pulang dulu ya. Asalamualaikum.

Ibu Bawang Daun        : walaikumsalam. Tapi aneh sekali, tidak biasanya mereka bersikap baik. Ah tidak, mungkn ini hanya perasaanku saja. Aku tidak boleh berprasangka buruk.

 

Ibu bawang daun pun memakan kue yang pemberian Bawang Merah dan Ibunya.

 

Ibu Bawang Daun        : ahh… kenapa ini, tolong…tolong..(sekarat)

Ibu Bawang Merah       : HAHAHAHAHA rasain kamu ! sebentar lagi kau akan mati, dan suamimu akan menikah denganku ! otomatis seluruh hartanya akan menjadi milikku!

Bawang Merah             : benar mah ! setelah ini kita akan jadi kaya raya!

 

Akhirnya ibu bawang daun menghembuskan napas terakhirnya. Beberapa saat kemudian Bawang Putih pulang dari sungai. Dia sangat terkejut melihat ibunya tergeletak di lantai dan sudah tak bernyawa. Bawang Putih menjatuhkan keranjang cuciannya dan berteriak histeris.

 

Bawang Putih               : Ibu !!!! IBU !!! ibuku kenapa? IBUUUUUUUUUUUUUUU!!! Bangun!!!

 

            Sejak kehilangan sosok ibu yang sangat menyayanginya, bawang putih amat merasa kesepian dan kerap menyendiri di kamarnya. Pada saat itu Ibu Bawang Merah sering berkunjung ke rumahnya untuk membawa makanan, bahkan membantu bawang putih membersihkan rumah dan memasak. Hal itulah yang membuat Ayah Bawang tertarik untuk menikahi Ibu Bawang Merah agar putrinya tidak kesepian lagi. Pernikahan dirayakan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa tetangga dan keluarga yang datang menghadari acara ini.

 

Ibu Bawang Merah       : aduuuh, penghulunya kemana sih? Lama banget.

Ayah Bawang               : mungkin penghulunya masih di perjalanan.

Ibu Bawang Merah       : ah, emang dasar malas tu penghulu. (sambil berdiri mondar

mandir).

Ayah Bawang               : duduklah, sabarlah dulu.

 

Setelah menunggu lama akhirnya penghulu datang juga. Dia datang dengan tergopoh-gopoh.

 

Penghulu                       : assalamualaikum, maaf saya terlambat. (logat madura)

Ibu Bawang Merah       : bapak ini dari mana aja sih. (sambil berlari menghampiri                                        penghulu)

Penghulu                       : maaf buk maaf

Ibu Bawang Merah       : ah alasan saja

Penghulu                       : sekali lagi maaf buk.

Ibu Bawang Merah       : sudahlah, kita mulai saja sekarang (sambil menarik                                                                penghulu).

Penghulu                       : ya saya nikkahkan pak bappaknya bawang putih ngan dengan buk ibuknya bawang merah, ngan dengan mas kawin sepperangkat bu bumbu dappur di bayar tunai.

Ayah Bawang               : saya terima nikahnya Ibu bawang merah dengan mas kawin seperangkat bumbu dapur di bayar tunai.

Penghulu                       : na bagaimana si saksi ? sah apa nggak ini??

Saksi                             : saaaaaah~ alhamdulilah.

 

 

            Setelah acara pernikahan itu, Ayah Bawang, ibu bawang merah, bawang putih, dan bawang merah hidup bersama di rumah bawang putih. Ketika Ayah Bawang di rumah, mereka memeperlakukan bawang putih dengan sangat baik. Namun, ketika ayah keluar rumah mereka berlaku buruk pada Bawang Putih. Mereka kerap memarahi Bawang Putih dan memberinya pekerjaan berat.

 

(di ruang tamu – pagi hari)

Ibu Bawang Merah       : hey kau bawang merah, sapu sapu dong yang rajin kayak bawang putih. Sapu sampai bersih.

Bawang Merah             :  iya iya bu!

Bawang Putih               : biar aku bantu yaaa..

Bawang Merah             : tidak usah!

Ibu Bawang Merah       : sudah sudah, bawang putih sini nak. Kamu duduk bersama ibu dan ayah.

Bawang Putih               : baik bu

Ibu Bawang Merah       : eh sebentar, ibu buatkan teh dulu

Ayah Bawang               : aku harus pergi ke pasar bu.

Ibu Bawang Merah       : nanti dulu lah yah, minum teh dulu (bergegas menuju dapur)

Ayah Bawang               : baiklah kalau begitu.

Bawang Putih               : ayah, putih boleh bantu ayah di pasar?

Ayah Bawang               : nggak usah lah nak. Kamu di rumah saja. Meraaah, kemarilah, duduklah di sini.

Bawang Merah             : sebentar yah, aku selesaikan dulu pekerjaanku.

Ayah Bawang               : kalian memang anak-anak ayah yang rajin, ayah bangga dengan kalian.

Bawang Merah             : oh iya putih, setelah ini kamu bisa membantuku mencuci di sungai?

Bawang Putih               : oh dengan senang hati, aku ambil baju kotor dulu ya.. (mengambil baju kotor)

Bawang Merah             : yasudah cepat ………………. ayah, kami berangkat ya

Ayah Bawang               : iya, hati-hati di jalan nak.

Ibu Bawang Merah       : kemana anak-anak yah?

Ayah Bawang               : mereka pergi ke sungai bu.

Ibu Bawang Merah       : o begitu. Ini diminum dulu tehnya yah.

Ayah Bawang               : terima kasih bu (meminum teh)

 

Ayah bawang meminum teh yang ternyata telah dicampur dengan racun oleh ibu bawang merah. Beberapa saat kemudian dia merasakan perutnya sangat sakit. Ayah bawang mengalami nasib yang sama seperti istrinya, ia meninggal dunia di racun oleh Ibu Bawang Merah.

 

Ayah Bawang               : aduh, kenapa perutku sakit sekali.

Ibu Bawang Merah       : kenapa yah? Kau baik-baik saja kan? (berpura-pura peduli)

Ayah Bawang               : sakit sekali, aku tidak tahan lagi..aduh, ahh (terjatuh di lantai)

Ibu Bawang Merah       : ayah, ayah kenapa? (menggoyang-gayangkan tubuh suaminya sambil memastikan apakah suaminya sudah meninggal). Hahaha….RASAIN KAU !! sekarang semuanya menjadi miliku ! haha.

 

Beberapa saat kemudian Bawang Putih pulang dari sungai. Namun, dia mendapati ayahnya telah tak bernyawa. Ketika mengetahui ayahnya telah tiada, ia menangis tersedu-sedu.

 

Bawang putih               : AYAAAAAAAAAAAH !!! ayah bangun – bangun !!

Bawang Merah             : Ayaaaaaaaaahhhhh !!!!! ayah kenapa ??

Peri                                : lihat saja. Kelak akan ada bencana yang menghampiri bawang merah dan ibunya. Karna semua yang mereka perbuat akan mendapat balasan yang setimpal. *triiiing.

 

Kini ayah dan ibu bawang putih telah tiada. Bawang putih sangat merasa sedih, dia selalu dijadikan pembantu oleh ibu tirinya dan bawang merah.

 

Bawang Merah             : Putiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhh !!!!!

Bawang Putih               : iya kak, ada apa??

Ibu Bawang Merah       : heh kamu! Cepat siapkan makanan !

Bawang Putih               : iya bu, akan putih siapkan

(meletakkan makanan di meja )

Bawang Putih               : (duduk )

Bawang Merah             : ngapain kamu duduk disini ??

Bawang Putih               : putih ingin makan bersama ibu dan kakak

Ibu Bawang Merah       : enak aja! Kamu tuh ngga pantes duduk disini. Sudah sana bersihkan rumah.

Bawang Merah             : tau nih, sana sana ! ngilangin selera makan aja .

Ibu Bawang                  : heh heh ! putihhhhh, tuh masih ada yang kotor ! yang bener doong !!!!

Bawang Merah             : gimana sih? Nyapu aja nggak becuss ! ( sambil menjatuhkan tisu di lantai )

Bawang Putih               : bawang merah, hentikan. Lantai tak akan bersih jika kau terus mengotorinya seperti ini.

Ibu Bawang                  : berani kau !! diam ! kerjakan yang benar!!

Bawang Merah             : dan jangan lupa nanti cucikan semua bajuku !

 

            Ibu bawang dan bawang merah pun pergi jalan – jalan ke pasar sedangkan bawang putih harus membereskan pekerjaan rumah. Beberapa saat kemudian, datanglah cabe ijo..

Cabe ijo                         : bawang putih – bawang putih, kau tak kenapa – kenapa kan?

Bawang Putih               : aku baik – baik saja. Ada apa cabe ijo?

Cabe ijo                         : ini aku mengantarkan undangan pesta panen dari pangeran. Pangeran mengundang semua warga di desa bumbu ini. Kau jangan lupa datang ya. Kalau bisa kau jangan beritahu bawang merah dan ibunya ! biar mereka tau rasa.

Bawang Merah             : apa kau bilang ?? berikan undangan itu padaku !!

Ibu Bawang Merah       : hey bocah ingusan ! berani – beraninya kau !! pergi sana !!

Cabe ijo                         : kalian memang benar – benar jahat..

Bawang Putih               : sudah cabe ijo ayo kita pergi, antarkan aku ke sungai.
(Bawang putih dan cabe ijo pun pergi ke sungai.)

Ibu Bawang Merah       : hanya kita berdua saja yang boleh datang ke pesta panen ini. Dan biarkan bawang putih sendirian disini !

Bawang Merah             : betul itu mah !

 

            Saat di sungai bawang putih dan cabe ijo bertemu dengan bawang bombay, bawang bombay adalah teman baik bawang merah.

 

Bawang Putih               : apa kabar bawang bombay ?

Bawang Bombay          : tadinya baik. Karna ada kau jadi buruk deh!

Cabe Ijo                        : biasa aja deh ! bawang putih kan nanya baik – baik !

Bawang Bombay          : diem deh kamu ! heh bawang putih, itu baju milik ibu tirimu ya ?

Bawang Putih               : iya memangnya kenapa ?

Bawang Bombay          : pinjam dong.

Bawang Putih               : untuk apa ?

Bawang Bombay          : untuk di hanyutkan. (menghanyutkan baju milik ibu bawang )

Cabe Ijo                        : hey kau !! apa salah bawang putih !!

Bawang Putih               : kenapa kau melakukannya ? cabe ijo bantu aku mengejar baju itu.

Bawang Bombay          : maaf ya bawang putih yang malang. Ini perintah dari bawang

merah. Sekarang aku akan menemui bawang merah untuk

melaporkannya.

 

            Bawang putih dan cabe ijo pun terus mengejar baju yang hanyut itu tapi sayangnya baju itu sudah menghilang entah hanyut kemana.

 

Cabe Ijo                        : kau pasti akan kena marah oleh ibu tiri mu.

Bawang Putih               : bagaimana ini, aduuh ibu akan sangat marah besar padaku. (nangis)

Cabe Ijo                        : sudahlah lebih baik kita pulang dulu.

 

            Bawang putih pun pulang ke rumah dan menceritakan kepada ibunya tentang baju yang hanyut itu.

Bawang Putih               : ibu…. maafkan putihh

Ibu Bawang Merah       : tunggu tunggu… ada apa ini ??

Bawang utih                 : baju ibuuu……

Ibu bawang Merah        :kenapa bajuku?

Bawang Merah             : Pasti hilang deh

Bawang Putih               : maafkan putih bu, putih tidak sengaja

Ibu Bawang                  : DASAR ANAK CEROBOH, bodoh sekali kau !! (menyeret bawang putih)

Bawang Putih               : maafkan saya bu ! maaf (nangis, bersujud)

Bawang Merah             : maaf maaf ! enak aja kamu minta maaf. Kamu tahu nggak? Itu baju tuh mahal! cari baju itu sampai ketemu !!

Bawang Putih               : baiklah kakak

Ibu Bawang                  : heh ! jangan pulang sampai BAJU ITU DITEMUKAN, NGERTIII !!

Bawang Merah             : ya sudah lah ma, kita masuk saja.

 

Akhirnya bawang putih pergi ke sungai, dengan sedih bawang putih terus mencari baju itu sampai larut malam. Disana dia ditemui oleh seorang peri .

 

Bawang Putih               : bagaimana ini, sudah larut malah tapi baju itu belum di temukan.

Peri                                : tenanglah nak~ aku akan membantumu~

Bawang Putih               : suara siapa itu ? siapa kau?

Peri                                : bawang putih. Aku adalah peri cantik, aku akan membantumu untuk menemukan baju ibu tirimu.

Bawang Putih               : kau peri ? peri ? perii.. tolong bantu aku.

Peri                                : tentu saja aku akan membantumu.

Bawang Putih               : benarkah apa yang kau katakan itu?

Peri                                : yah, pasti.

Bawang Putih               : terimakasih peri, apa yang harus ku lakukan?

Peri                                : sekarang pergilah ke sebuah rumah mewah. Disanalah kau akan menemukan baju itu.

Bawang Putih               : rumah pangeran yang akan mengadakan pesta panen itu ?

Peri                                : iya benar, disana tempatnya.

Bawang Putih               : terima kasih peri.

Peri                                : baiklah putih, mari aku antar ke sana.

 

            Bawang Putih pun pergi ke rumah pangeran yang sedang mengadakan pesta panen.

 

(Istana)

Bawang Putih               : peri~ disinikah ? tapi bagaimana bisa ? aku dekil, pasti tidak di boleh kan untuk masuk.

Peri                                : cobalah masuk.

Pengawal                      : heh ! mana undangannya ?

Bawang Putih               : undangan apa ?

Pengawal                      :  undangan pesta panen, jika kau punya undangan maka kau boleh masuk.

Bawang Putih               : aku tak punya undangan yang kalian maksud!

Pengawal                      : dasar gembel ! pergi kau !!

Bawang Putih               : tapi…tapi..

Pengawal                      : ah, sudahlah pergi kau !

 

Bawang Putih               : peri~ bagaimana ini ? aku harus menemukan baju itu sekarang?

Peri                                : kemarilah~ pegang tanganku. Aku akan membuat pengawal itu mengijinkan mu masuk. Aku akan menghipnotis dia.

1..2..3..4..5..

 

Pengawal                      : ah, apa ini ( menghindari terjangan angin)

Bawang Putih               : permisi

Pengawal                      : oh nona kau cantik sekali.

Bawang Putih               : bolehkah aku masuk?

Pengawal                      : tentu saja, silahkan.

 

Bawang putih pun masuk ke istana.

 

Peri                                : pergilah ke samping rumah ini tempat dimana air sungai mengalir, disana akan ada baju ibumu.

            Setelah berhasil masuk ke dalam rumah mewah itu, Bawang Putih pun pergi ke samping rumah itu. Sedangkan bawang merah dan Ibunya sudah berada diantara ramainya tamu yang datang. Bawang merah dan ibunya kemudian menemui pangeran.

 

Bawang Merah             : halo pangeran tampan. Apa kabar ?

Bawang Bombay          : waaaah, pangeran tampan sekali.

Pangeran                       : baik~ terimakasih atas kedatangan kalian.

Ibu Bawang Merah       : wah wah. Kau sangat tampan malam ini. Begitu pulang dengan putriku yang cantik jelita.

Pangeran                       : terimakasih. Kudengar kau mempunyai sudara bernama bawang putih. Dimana dia ?

Bawang Merah             : apa ??? bawang putih ?? dia bukan saudaraku lagi !!

Pangeran                       : benarkah? Apa kau tak membohongiku??

Bawang Merah             : sungguh ! aku tak membohongimu pangeran~ kalau kamu tak percaya tanya saja pada bawang bombay.

Pangeran                       : bawang bombay, benar dia tak mempunyai saudara bernama bawang putih ?

Bawang Bombay          : benar. Bawang putih hanyalah pesuruh.

Pangeran                       : baiklah aku percaya, sekarang silakan masuk.

 

Di sungai tepat di samping rumah itu, akhirnya bawang putih berhasil menemukan baju yang hanyut.

Bawang Putih               : terimakasih peri. Kau sangat baik.

Peri                                : ini sudah menjadi tugasku. Ini aku punya beberapa perhiasan untukmu. Pakailah. Jika ada oranglain yang memakainya, maka orang itu akan mendapatkan bahaya.

Bawang Putih               : terimakasih peri.

 

Setelah menemukan baju ibunya. Bawang putihpun berjalan menuju gerbang keluar untuk pulang. Pangeran melihat bawang putih yang berjalan terburu – buru menuju gerbang dan segera mengejarnya. Akhirnya Pengeran berhasil mengejar bawang putih dan mereka saling bertatapan..

 

Pangeran                       : hei kau !! kau !! kau bawang putih kan??

Bawang Putih               : pangeran? (mencoba berlari)

Pangeran                       : tunggu! Apa yang sedang kau lakukan ?

Bawang Putih               : maaf pangeran. Tadi aku mengambil baju ibu tiriku yang hanyut di aliran sungai di samping istana ini.

 

Tiba-tiba ibu bawang merah menghampiri mereka..

 

Ibu Bawang Merah       : bawang putih? Kenapa kau ada di sini ? seharusnya kau membersihkan rumah!

Bawang Merah             : dasar  pemalas! Ngapain kamu disini? Pulang sana !

Bawang Putih               : maafkan aku. Aku akan segera pulang bu.

Pangeran                       : oh jadi benar bawang putih adalah saudara kalian. Kenapa kalian memperlakukannya seperti itu?

Bawang Bombay          : tidak pangeran! Sungguh dia adalah pesuruh di rumah bawang merah.

Bawang merah              : benar apa yang dikatakan bawang bombay! Lihatlah pengaran! Bawang putih mencuri kotak perhiasanku, berikan perhiasan itu!!

Bawang Putih               : jangan bawang merah , jangan ! (rebutan)

Ibu bawang Merah        : dasar kau ! anak tak punya malu !!

Bawang Merah             : lihat pangeran, perhiasan ini lebih cocok dipakai olehku dan ibu ku.

Ibu Bawang Merah       : ini karna aku baik hati aku berikan satu perhiasan untukmu bawang bombay !

Bawang Bombay          : oh~ terimakasih.

 

Bawang merah, ibu bawang, dan bawang bombay pun memakai perhiasan itu

 

Bawang Merah             : ah tidak ! kenapa kulitku gatal gatal begini perih pula !! ada apa ini.

Ibu Bawang Merah       : aduh kulitku gatal sekali !!

Bawang Bombay          : aah~ kulitkuuuuu..

Pangeran                       : kalian pasti selalu jahat pada bawang putih. Dan itu ganjaran untuk kalian. Sekarang cepat minta maaf pada bawang putih !!

Peri                                : apa yang kalian lakukan pada bawang putih selama ini sungguh sangat jahat. Dan sekarang kalian telah mendapatkan balasan yang setimpal. Cepat minta maaf pada bawang putih, jika tidak keadaan kalian akan terus seperti ini.

Pangeran                       : sungguh aku tak menyangka, kalian akan sejahat itu pada bawang putih.

Bawang Merah             : bawang putih ! aku mohon maafkan aku. Maaf karna sikapku selalu jahat padamu. Sungguh aku minta maaf.

Ibu Bawang Merah       : maafkan ibu nak, ibu sudah berprilaku kasar padamu. Maafkan ibu.

Bawang Bombay          : maafkan aku, aku sudah menjadi teman yang sangat jahat padamu.

Bawang Putih               : sudahlah. Aku sudah memaafkan kalian. Aku yakin kalian bisa berubah.

Bawang Merah             : terimakasih bawang putih. Kau memang sangat baik. (memeluk bawang putih)

Ibu Bawang Merah       : maafkan kami pangeran, kami telah membuat kegaduhan di istana ini.

Pangeran                       : baiklah, aku maafkan asalkan kalian berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Sekarang kalian boleh pulang

Bawang Merah             : baiklah

Pangeran                       : biar pengawalku mengantarkan kalian. Pengawal…

Pengawal                      : iya pangeran..

Pangeran                       : antarkan mereka pulang pastikan mereka selamat sampai di rumah.

Pengawal                      : baik pangeran

 

Pengawal mengantar Bawang Merah, Ibu Bawang Merah, dan Bawang Bombay pulang ke rumah.

 

Bawang Putih               : baiklah, saya juga izin pulang pangeran

Pangeran                       : tunggu….(menarik tangan bawang putih)

Bawang Putih               : ada apa pangeran

Pangeran                       : aku ingin mengatakan sesuatu padamu, maukah kau menjadi pendamping hidupku…

Bawang Putih               : (menunduk)

Pangeran                       : kenapa putih? Kau tidak bersedia?

Bawang Putih               : maafkan saya pangeran, tapi saya hanya gadis desa, apa pantas saya menjadi istri seorang pangeran.

Pangeran                       : kenapa tidak putih, kamu cantik dan kamu mempunyai hati yang baik, kamu layak bersamaku, aku mohon..

Bawang Putih               : (berfikir kemudian mengangguk) baiklah pangeran

Pangeran                       : terima kasih putih, aku akan segera datang ke rumahmu untuk melamarmu.

Bawang Putih               : (tersenyum menatap pangeran).

 

Akhirnya Pangeran melamar bawang putih, dan meminta izin pada ibu tirinya untuk menikahi bawang putih. Pada saat yang telah ditentukan, Bawang putih dan Pangeran menikah, pesta dansa pun digelar cukup meriah, bunga berwarna-warni menghiasi setiap sudut rumah, beraneka macam hidangan lezat disajikan, kebahagian tampak menyelimuti rumah mewah itu dan mereka hidup bahagia selamanya.

 
2 Comments

Posted by on May 17, 2013 in Tugas Kuliah

 

PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA

  • Pemerolehan Bahasa Pertama

Pemerolehan bahasa (Language Acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Pemerolehan bahasa (akuisisi bahasa) merupakan proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa.
Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa.
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167). Hal ini perlu ditekankan, karena pemerolehan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran (Cox, 1999; Musfiroh, 2002)

  • Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa.Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
  • Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
  • Apabila dalam proses awal menunjukkan pemahaman dan penghasilan yang baik dari keluarga dan lingkungan bahasa yang diperolehnya, proses pemerolehan bahasa selanjutnya akan mendapatkan kemudahan. Tahapan-tahapan berbahasa ini memberikan pengaruh yang besar dalam proses pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa adalah proses pemahaman dan penghasilan (produksi) bahasa pada diri anak melalui beberapa tahap mulai dari meraba sampai fasih berbicara (Indrawati dan Oktarina, 2005:21).
  • Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.

 

Pemerolehan Bahasa Kedua

  • Proses Pemerolehan Bahasa Kedua

Pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa. Orang dewasa mempunyai dua cara yang, berbeda berdikari, dan mandiri mengenai pengembangan kompetensi dalam bahasa kedua. Pertama, pemerolehan bahasa merupakan proses yang bersamaan dengan cara anak-anak mengembangkan kemampuan dalam bahasa pertama mereka. Pemerolehan bahasa merupakan proses bawah sadar. Para pemeroleh bahasa tidak selalu sadar akan kenyataan bahwa mereka memakai bahasa untuk berkomunikasi.

Kedua, untuk mengembangkan kompetensi dalam bahasa kedua dapat dilakukan dengan belajar bahasa. Anak-anak memperoleh bahasa, sedangkan orang dewasa hanya dapat mempelajarinya. Akan tetapi ada hipotesis pemerolehan belajar yang menuntut bahwa orang-orang dewasa juga memperoleh bahasa, kemampuan memungut bahasa bahasa tidaklah hilang pada masa puber. Orang-orang dewasa juga dapat memanfaatkan sarana pemerolehan bahasa alamiah yang sama seperti yang dipakai anak-anak. Pemerolehan merupakan suatu proses yang amat kuat pada orang dewasa.

  • Pemerolehan dan pembelajaran dapat dibedakan dalam lima hal, yaitu:

1.     Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemerolehan bahasa pertama, seorang anak penutur asli, sedangkan belajar bahasa adalah pengetahuan secara formal,

2.      Pemerolehan  secara bawah sadar, sedangkan pembelajaran sadar dan disengaja.

3.     Pemerolehan bahasa kedua seperti memungut bahasa kedua, sedangkan pembelajaran mengetahui bahasa kedua,

4.     Pemerolehan mendapat pengetahuan secara implisit, sedangkan pembelajaran mendapat pengetahuan secara eksplisit,

5.      Pemerolehan tidak membantu kemampuan anak, sedangkan pembelajaran menolong sekali.

 

  • Cara pemerolehan bahasa kedua dapat dibagi dua cara, yaitu pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin dan pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.
  1. Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin adalah pemerolehan bahasa kedua yang diajarkan kepada pelajar dengan menyajikan materi yang sudah dipahami. Materi bergantung pada kriteria yang ditentukan oleh guru. Strategi-strategi yang dipakai oleh seorang guru sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok bagi siswanya.
  2. Pemerolehan bahasa kedua secara alamiah adalah pemerolehan bahasa kedua/asing yang terjadi dalam komunikasi sehari-hari, bebas dari pengajaran atau pimpinan,guru. Tidak ada keseragaman cara. Setiap individu memperoleh bahasa kedua dengan caranya sendiri-sendiri. Interaksi menuntut komunikasi bahasa dan mendorong pemerolehan bahasa. Dua ciri penting dari pemerolehan bahasa kedua secara alamiah atau interaksi spontan ialah terjadi dalam komunikasi sehari-hari, dan bebas dari pimpinan sistematis yang sengaja.

 

  • Pemerolehan Bahasa Kedua

1.     Bagi sebagian besar anak Indonesia, bahasa Indonesia bukan bahasa pertama mereka, melainkan bahasa kedua, atau ketiga.

2.     Pengenalan/penguasaan bahasa Indonesia dapat terjadi melalui proses pemerolehan atau proses belajar.

3.     Proses pemerolehan terjadi secara alamiah, tanpa sadar, melalui interaksi tak formal dengan orang tua dan/atau teman sebaya, tanpa bimbingan.

4.      Proses belajar terjadi secara formal, disengaja, melalui interaksi edukatif, ada bimbingan, dan dilakukan dengan sadar.

5.      Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua (B2) didapat bersama-sama atau dalam waktu berbeda. Jika didapat dalam waktu yang berbeda, Bahasa Kedua (B2) didapat pada usia prasekolah atau pada usia Sekolah Dasar.

6.      Bahasa Kedua (B2) dapat diperoleh di lingkungan Bahasa Pertama (B1) dan Bahasa Kedua (B2). Jika diperoleh di lingkungan Bahasa Pertama, Bahasa Kedua dipelajari melalui proses belajar formal; jika didapat di lingkungan Bahasa Kedua, Bahasa Kedua didapat melalui interaksi tidak formal, melalui keluarga, atau anggota masya-rakat Bahasa Kedua.

 

  • Prinsip dan Metode Pengajaran B2

1.      Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah belajar dalam konteks pemakaian bahasa yang sebenarnya.

2.      Belajar Bahasa Kedua (B2) adalah belajar menggunakan Bahasa Kedua (B2) tersebut dalam berbagai fungsinya.

3.      Siswa harus dilatih menggunakan bahasa secara tepat.

4.      Pengajaran bahasa perlu memperhatikan kebutuhan afektif dan kognitif pelajaran.

5.      Pemahaman Budaya Bahasa Kedua (B2) perlu ditumbuhkan dalam pengajaran Bahasa Kedua (B2).

6.      Metode tata bahasa terjemahan tidak membuat siswa terampil menggunakan bahasa, tetapi tahu tentang bahasa.

7.      Metode langsung diterapkan melalui kegiatan dialog, tubian pola, dan penerapan. Tubian yang dilakukan mencakupi tubian pengulangan dan tubian respons.

8.      Tujuan pengajaran bahasa komunikatif ialah agar siswa dapat berkomunikasi dalam permaian bahasa yang sebenarnya dalam bentuk bahasa yang diterima. Dalam pelaksanaannya, jika diperlukan Bahasa Kesatu (B1) dan penerjemahkan dapat digunakan. Tata bahasa diberikan.

9.      Pengajaran dengan respons fisik total menekankan penguasaan kemampuan menyimak pada awal pelajaran. Pemahaman dan retensi paling baik dipelajari melalui gerakan fisik sebagai respons terhadap perintah guru. Kegiatan berbicara baru dilakukan bila siswa sudah benar-benar siap. Proses siswa dilaksanakan melalui langkah = latihan mendengarkan, produksi dan membaca serta menulis.

10.  Pendekatan alamiah dikembangkan berdasarkan keyakinan bahwa penguasaan bahasa lebih banyak terjadi melalui proses pemerolehan secara alamiah yang digabungkan dengan teori monitor dan Krashen. Pendekatan ini dalam penerapannya sangat mementingkan pemerolehan kosakata.

 

  • Tahap Pemerolehan Bahasa

a. Kurang dari 1 tahun

  • • Belum dapat mengucapkan kata-kata,
  • • Belum menggunakan bahasa dalam arti yang sebenarnya
  • • Dapat membedakan beberapa ucapan orang dewasa. (Eimas, lewat Gleason, 1985: 2,

dalam Zuchdi, 1996: 4
b. 1 tahun

•    Mulai mengoceh

  • • Bermain dengan bunyi (bermain dengan jari-jari tangan dan kakinya)
    • Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik. (Gleason, 1985: 2)
    •    Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri

perkembangan yang universal.

  • Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti

konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).

•    Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).

c. 2 tahun

• Mengetahui kurang lebih memiliki 50 kata.

• Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang dikombinasikan dalam

ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau bentuk lain yang

seharusnya digunakan.

• Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat menggunakan bentuk bahasa

yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa.

• Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.

d. Taman Kanak-kanak

  • • Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
  • • Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan berbagai bentuk

kalimat,

  • • Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.

e. Sekolah Dasar

• Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa tulis,

• Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.

f. Remaja

Penggunaan bahasa yang khas sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri

(merupakan usia yang sensitif untuk belajar berbahasa) (Gleason, 1985: 6)

g. Dewasa

Terdapat perbedaan-perbedaan yang besarØ antara individu yang satu dengan yang lainnya dalam perkembangan bahasa (sesuai dengan tingkat pendidikan, peranan dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan.

 

2.   Perbedaan Bahasa Anak Laki-Laki Dan Perempuan

a. Anak Laki-laki

• Ekspresi emosional cenderung menggunakan kata-kata kasar misalnya umpatan:

   sialan, bedebah, dsb

  • • Cenderung menggunakan bahasa secara langsung dan bersifat memberitahu, karena

   laki-laki menganggap perannya dalam percakapan adalah pemberi informasi.
• Kurang banyak berbicara, tetapi lebih banyak berbuat. Pada perkembangan ke

  tingkat dewasa seorang ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara

  dengan anak laki-laki, dan lebih banyak menginterupsi pembicaraan anak

  perempuannya.

b. Anak perempuan

  • • Menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung

   menggunakan kata-kata yang lebih sopan: silakan, terima kasih, selamat jalan, dsb.
• Ekspresi emosional yang digunakan lebih halus, misalnya: Oh sayangku, Ya Allah,

   dsb.
• Cenderung menggunakan bahasa tidak langsung dalam meminta persetujuan dan

   lebih banyak mendengarkan. Perannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator.
• Lebih banyak berbicara secara berpasangan dengan teman akrabnya dan saling

  menceritakan rahasianya

 

  • Pembelajaran bahasa kedua
  1. 1.  Strategi Pembelajaran

Strategi Pembelajaran adalah apa-apa yang dipelajari atau apa-apa yang ada dalam pelajaran. Macam-Macam Strategi Pembelajaran :

a. Strategi Metakognitif

  • • Strategi yang melibatkan perencanaan belajar
  • • Pemikiran proses pemikiran yang sedang berlangsung
  • • Pemantauan produksi dan pemahaman
  • • Evaluasi setelah kegiatan selesai

b. Strategi Kognitif

Yaitu strategi yang melibatkan tugas-tugas kognitif atau terbatas pada tugas-tugas pembelajaran secara spesifik atau melibatkan materi pelajaran. Macam-macam strategi kognitif sebagai berikut:

 

  • • Revetisi
  • • Melacak ulang
  • • Berlaku penerjemahan
  • • Mengelompokkan ulang
  • • Mencatat/menulis gagasan utama baik secara lisan mauoun tulisan
  • • Kata kunci
  • • Konstektualisasi
  • • Elaborasi
  • • Transfer
  1. c.  Strategi Sosioafektif

Yaitu strategi yang terkait dengan interaksi sosial.

2.  Strategi Komunikasi

Strategi Komunikasi adalah bagaimana secara produktif kita menyampaikan makna kepada orang lain. Macam-macam strategi komunikasi yaitu:

a.  Strategi Pengindaraan

Yaitu terkait dengan sintaksis / leksikal semantik.

b. Strategi Konvensatoris

• Aprokasimasi : menggunakan istilah alternatif untuk mengungkapkan.

• Menerjemahkan Harfiah

• Alihkode: (mengalihkan bahasa ke-2 ke bahasa pertama)

• Sinyal non linguistik (gerak tubuh) ekspresi wajah.

• Meminta tolong / meminta bantuan terhadap lawan bicara kita (mengulang

kembali pertanyaan)

• Mengulur waktu : memberi jeda waktu untuk berfikir yang akan disampaikan

 

  • Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran (SP)

a. Berdasarkan komponen dalam program pengajaran.

1) Strategi pembelajaran berpusat pada guru (teacher ooriented)

- Peserta didik : sebagai objek pasif

- Guru : sebagi subjek aktif (dominan)

- Macam-macam tekniknya:

a)      Teknik ceramah

b)      Teknik team teaching

c)      Teknik sumbang saran

d)     Teknik demonstrasi

2) Strategi pembelajaran berpusat pada siswa (student oriented)

- Siswa : sebagai subjek aktif dominan

- Macam-macam tekniknya:

a)      Teknik inquiri

b)      Teknik diskusi

c)      Teknik kerja kelompok

d)     Teknik sosiodrama

e)      Teknik penyajian kasus / masalah

3) Strategi pembelajaran berpusat pada materi (material center strategis)

- Teknik-tekniknya :

a)      Teknik tutorial

b)      Teknik eksperimen

c)      Teknik demonstrasi

d)     Teknik kerja lapangan

b. Berdasarkan kegiatan pengolahan materi / pesan

1) Strategi pembelajaran Ekspositoris

Yaitu Strategi yang berbentuk penguraian (bahan tertulis/penjelasan lisan). Dalam strategi ini gru lebih dominan atau aktif. Teknik-teknik Strategi pembelajaran ekspositoris yaitu: (a) teknik simulasi, (b) teknik demonstrasi, dan (c) teknik ceramah.

2) Strategi pembelajaran Heuristik

Yaitu siswa diberi kesempatan untuk lebih dominan dalam pembelajaran dan mencari sendiri informasi yang sedang dipelajari. Jadi dalam strategi ini siswa dituntut lebih dominan. Teknik-teknik dalam strategi pembelajaran Heuristik yaitu: (a)Teknik Problem Solving, (b) Teknik Inquiri, (c) Teknik Penemuan, dan (d) Teknik Eksperimen

c. Berdasarkan cara pengolahan atau memproses pesan / materi

1) Strategi Pembelajaran Deduksi

Yaitu strategi dari umum – khusus, atau dari abstrak ke nyata, atau dari premis ke pemikiran yang logis. Teknik dari strategi ini adalah teknik ceramah. Ada tiga langkah dalam strategi pembelajaran deduksi yaitu:

  • Pengajar memilih pengetahuan yang akan diajarkan (memilih materi)
  • Pengajar memberi materi
  • Pengajar memberi contoh-contoh dan membuktikannya kepada peserta didik.

2) Strategi Pembelajaran Induksi

Yaitu strategi dari khusus ke umum, atau dari individual ke generalisasi. Jadi strategi ini merupakan kebalikan dari strategi pembelajaran deduksi di atas. Ada 4 langkah dalam strategi ini yaitu:

  • Pengajar memilih materi
  • Pengajar menyajikan contoh-contoh yang spesifik untuk dijadikan bahan penyusun hipotesis
  • Bukti-bukti disajikan dgn maksud membenarkan / menyangkal
  • Menyimpulkan bukti

d. Berdasarkan cara memproses penemuan

1) Strategi Pembelajaran Ekspositoris.

2) Strategi Pembelajaran Discovery.

 

 
1 Comment

Posted by on February 27, 2013 in Tugas Kuliah

 

Pembelajaran Terpadu

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian Pembelajaran Terpadu

Beberapa pengertian dari pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pembelajaran terpadu diantaranya :

1) menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu (integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of interest);

2) menurut Prabowo (2000 : 2), pembelajaran terpadu adalah suatu proses pembelajaran dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi. Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pembelajaran terpadu di atas, yaitu konsep pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.

Menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi. Pendekatan belajar mengajar seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.

Langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran terpadu adalah pemilihan/ pengembangan topik atau tema. Dalam langkah awal ini guru mengajak anak didiknya untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut. Dengan demikian anak didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3).

 

B.   Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu

Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi : 1) prinsip penggalian tema, 2) prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu, 3) prinsip evaluasi dan 4) prinsip reaksi.

  1. Prinsip penggalian tema antara lain : a). Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan banyak bidang studi, b). Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya c). Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak. d). Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak, e). Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar, f) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat, g). Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
  2. Prinsip pelaksanaan terpadu di antaranya : a) guru hendaknya jangan menjadi “single actor “ yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar, b) pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas  yang menuntut adanya kerjasarna kelompok, c) guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam poses perencanaan.
  3. Prinsip evaluatif adalah : a). memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya, b) guru perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam kontrak.
  4. Prinsip reaksi, dampak pengiring (nuturan efek) yang penting  bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua “event “ yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan bermakna.
    Waktu pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam yaitu : a) pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu apabila materi yang dijalankan cocok sekali diajarkan secara terpadu; b) Pembelajaran terpadu bersifat temporer, tanpa kepastian waktu dan bersifat situasional, dimana pelaksanaannya tidak mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan pembalajaran terpadu secara spontan memiliki karakteristik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan mata pelajaran. Walaupun demikian guru tetap harus merencanakan keterkaitan konseptual atau antar pelajaran, dan model jaring laba-laba memungkinkan dilaksanakan dengan pembelajaran terpadu secara spontan (tim pengembang PGSD, 1996); c) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu secara periodik, misalnya setiap akhir minggu, atau akhir catur wulan. Waktu-waktunya telah dirancang secara pasti; d) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu sehari penuh. Selama satu hari tidak ada pembelajaran yang lain, yang ada siswa belajar dengan yang diinginkan. Siswa sibuk dengan urusannya masing-masing.

Pembelajaran ini dikenal dengan istilah “integrated day “ atau hari terpadu. Diawali dengan kegiatan pengelolaan kelas yang meliputi penyiapan aspek-aspek kegiatan belajar, alat-alat, media dan peralatan lainnya yang dapat menunjang terlaksananya pembelajaran terpadu. Dalam tahap perencanaan guru memberikan arahan kepada murid tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, cara pelaksanaan kegiatan, dan cara siswa memperoleh bantuan guru.

Implikasi dari pembelajaran terpadu, bentuk hari terpadu, guru harus menentukan waktu maupun jumlah hari untuk pelaksanaan kegiatan tersebut dan dapat diisi dengan kegiatan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba; (4) Pembelajaran terpadu yang terbentuk dari tema sentral.

Implementasinya menuntut dilakukannya pengorganisasian kegiatan yang telah terstruktur. Pengorganisasian pada awal kegiatan mencakup penentuan tema dengan mempertimbangkan alat, bahan, dan sumber yang tersedia, jenis kegiatan serta cara guru membantu siswa. Untuk pelaksanaanya guru bekerjasama dengan guru kelas lainnya dalam merancang kegiatan belajar mengajar dengan memilih tema sentral transportasi dalam kehidupan.

 

C.    Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu

Hilda Karli dan Margaretha (2002:15) mengemukakan beberapa ciri pembelajaran terpadu, yaitu sebagai berikut:

  1. Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi.
  2. Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan anak mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya.
  3. Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri-inquiri. Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar.

Sejalan dengan itu, Tim Pengembang PGSD (1977:7) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri berikut ini.

  1. Berpusat pada anak
  2. Memberikan pengalaman langsung pada anak
  3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas
  4. Memyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
  5. Bersikap luwes
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

D.   Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan dibandingkan dengan pendekatan konvensional, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
  2. Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan sosial peserta didik.
  5. Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan riil peserta didik.
  6. Jika pembelajaran terpadu dirancang bersama, dapat meningkatkan kerja sama antar guru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.

Di samping ada kelebihan di atas, pembelajaran terpadu memiliki kelemahan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja. Puskur, Balitbang Diknas (ttg:9) mengidentifikasi beberapa kelemahan pembelajaran terpadu antara lain dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:

  1. Aspek Guru

Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja.

2.  Aspek Peserta Didik

Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terlambat.

3. Aspek Kurikulum

Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.

4. Aspek Penilaian

Pembelajaran terpadu memerlukan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan.

5. Aspek Suasana Pembelajaran

Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan ‘tenggelam’nya bidang kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengerjakan sebuah tema, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.

E.   Pentingnya Pembelajaran Terpadu Diterapkan Di Tingkat Sekolah Dasar

Piaget mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak meliputi tahapan: (a) sensori-motor, (b) pra operasional, (c) operasional konkrit, dan (d) operasional formal. Anak-anak usia dini (2-8 th) berada pada tahapan pra operasional dan operasional konkrit, sehingga kalau kita merujuk pada teori ini, dalam praktik pembelajaran di kelas hendaknya guru memperhatikan ciri-ciri perkembangan anak pada tahapan ini. Secara khusus pula para ahli psikologi pendidikan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak usia dini bersifat holistik; perkembangan anak bersifat terpadu, di mana aspek perkembangan yang satu terkait erat dan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Perkembangan fisik tidak bisa dipisahkan dari perkembangan mental, sosial, dan emosional ataupun sebaliknya, dan perkembangan itu akan terpadu dengan pengalaman, kehidupan, dan lingkungannya.

Merujuk pada teori-teori belajar, di antaranya teori Piaget, maka dalam pembelajaran di jenjang SD kelas rendah hendaknya kita menggunakan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak (DAP atau Developmentally Appropiate Practice). Penggunaan pendekatan DAP ini mengacu pada beberapa asas yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu:

  1. asas kedekatan, pembelajaran dimulai dari yang dekat dan dapat dijangkau oleh anak,
  2. asas faktual, pembelajaran hendaknya menapak pada hal-hal yang faktual (konkrit) mengarah pada konseptual (abstrak),
  3. asas holistik dan integratif, pembelajaran hendaknya tidak memilah-milah topik pelajaran, guru harus memikirkan segala sesuatu yang akan dipelajari anak sebagai suatu kesatuan yang utuh dan terpadu,
  4. asas kebermaknaan, pembelajaran hendaknya penuh makna dengan menciptakan banyak proses manipulatif sambil bermain.

Model pembelajaran terpadu tidak hanya cocok untuk peserta didik usia dini, namun bisa juga digunakan untuk peserta didik pada satuan pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, karena pada hakikatnya model pembelajaran ini merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud: 1996:3).

Beberapa alasan pembelajaran terpadu cocok digunakan di tingkat SD sebagai berikut.

  1. Pendidikan di SD harus memperhatikan perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan taraf perkembangannya, anak SD melihat dunia sekitarnya secara menyeluruh, mereka belum dapat memisah-misahkan bahan kajian yang satu dengan yang lain.
  2. Di samping memperhatikan perkembangan intelektual anak, guru juga haru mengurangi dampak dari fenomena ini di antaranya anak tidak mampu melihat dan memecahkan masalah dari berbagai sisi, karena ia terbiasa berfikir secara fragmentasi, anak dikhawatirkan tidak memiliki cakrawala pandang yang luas dan integratif. Cakrawala pandang yang luas diperlukan dalam memecahkan permasalahan yang akan mereka hadapi nanti di masyarakat. Jadi merupakan bekal hidup yang sehat dalam memandang manusia secara utuh.

 Integrated atau terpadu bisa mengacu pada integrated curricula (kurikulum terpadu) atau integrated approach (pendekatan terpadu) atau integrated learning (pembelajaran).  Pada pelaksanaannya istilah kurikulum terpadu atau pembelajaran terpadu atau pendekatan terpadu dapat dipertukarkan, seperti dikatakan oleh pakar pendidikan dan guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prof. Dr. Sri Anitah Wiryawan, M.Pd.(Pikiran Rakyat, 11 April 2003) “kurikulum terpadu adalah suatu pendekatan untuk mengorganisasikan kurikulum dengan cara menghapus garis batas mata pelajaran yang terpisah-pisah, sedangkan pembelajaran terpadu merupakan metode pengorganisasian pembelajaran yang menggunakan beberapa bidang mata pelajaran yang sesuai. Istilah kurikulum terpadu dengan pembelajaran terpadu dalam penggunaannya dapat saling dipertukarkan.

Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi anak (Atkinson, 1989:9 dalam Ahmad). Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inquiry, yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain storming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa didorong untuk berani bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri. Collins dan Dixon (1991:6 dalam Ahmad) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.

Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan program DAP yang dikemukakan Bredekamp (1992:7) dalam Ahmad,  pada proses pembelajaran hendaknya menyediakan berbagai aktivitas dan bahan-bahan yang kaya serta menawarkan pilihan bagi siswa sehingga siswa dapat memilihnya untuk kegiatan kelompok kecil maupun mandiri dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri sebagai aktivitas yang dipilihnya.  Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik. Pelaksanaan pembelajaran terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi anak. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar tidak digunakan secara terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kesatuan bahan yang utuh dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa.


BAB III

PENUTUP

A.   Kesimpulan

Pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : berpusat pada anak (student centered), proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. Disamping itu pembelajaran terpadu menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran. Kecuali mempunyai sifat luwes, pembelajaran terpadu juga memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Salah satu keterbatasan yang menonjol dari pembelajaran terpadu adalah pada faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya.
Jadi, pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan mengemukakan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik.

B.   Saran

Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).

Tim Pengembang PGSD. 1996. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/pengertian-pembelajaran-terpadu.html

http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/20/model-pembelajaran-tematik-pembelajaran-terpadu-latar-belakang-mengapa-disarankan-untuk-digunakan-di-sd-dan-mi/

http://rbaryans.wordpress.com/2007/04/19/mengapa-memilih-pembelajaran-terpadu/

http://www.p4tkipa.org/data/pembelajaranterpadu.pdf

http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/prinsip-prinsip-pembelajaran-terpadu/

 

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2013 in Tugas Kuliah

 

MMP (Membaca dan Menulis Permulaan)

Pengertian membaca permulaan

Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori keterampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson, 1972: 209).Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.

Disamping itu, pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi’ie, 1999: 7).

Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing and Leong, 1982: 206) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen, yaitu (a) visual memory (vm), (b) phonological memory (pm), dan (c) semantic memory (sm). Lambang lambang fonem tersebut adalah kata, dan kata dibentuk menjadi kalimat. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. Pada tingkat VM, huruf, kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis, sedangkan pada tingkat PM terjadi proses pembunyian lambang. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata, dan kalimat. Proses pada tingkat ini bersumber dari VM dan PM. Akhirnya pada tingkat SM terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat.

Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.

Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan / kemampuan membaca.

Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut,untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.

 

Pembelajaran membaca permulaan

Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan.Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie,1999: 16).

Metode-metode membaca permulaan

Metode adalah cara yang telah teratur dan terpilih secara baik untuk mencapai suatu maksud, cara mengajar (KBB,1984: 649). Sedangkan yang dimaksud dengan membaca permulaan adalah pengajaran membaca awal yang diberikan kepada siswa kelas 1 dengan tujuan agar siswa terampil membaca serta mengembangkan pengetahuan bahasa dan keterampilan bahasa guna menghadapi kelas berikutnya.

Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada berbagai metode yang dapat dipergunakan , antara lain (1) metode abjad (2) metode bunyi (3) metode kupas rangkai suku kata (4) metode kata lembaga (5) metode global dan (6) metode Struktual Analitik Sinteksis (SAS).(Alhkadiah,1992: 32-34).

a) Metode abjad dan metode bunyi

Menurut Alhkadiah,kedua metode ini sudah sangat tua. Menggunakan kata-kata lepas, misalnya:

Metode abjad              : bo-bo-bobo

la-ri-lari

Metode bunyi              : na-na-nana

lu-pa-lupa

b)  Metode kupas rangkai suku kata dan metode kata lembaga

Kedua metode ini menggunakan cara mengurai dan merangkaikan. Misalnya:

Metode kupas rangkai suku kata        : ma ta-ma ta

pa pa-pa pa

Metode kata lembaga                         :   Bola-bo-la-b-o-l-a-b-o-l-a-bola

c)  Metode global

Metode global timbul sebagai akibat adanya pengaruh aliran psikologi gestalt, yang berpendapat bahwa suatu kebulatan atau kesatuan akan lebih bermakna daripada jumlah bagian-bagiannya.Memperkenalkan kepada siswa beberapa kalimat, untuk dibaca.

d) Metode SAS

Metode ini dibagi menjadi 2tahap, yaitu: (1) tanpa buku (2) menggunakan buku.Mengenai itu, Momo(1987) mengemukakan beberapa cara yaitu:

1. Tahap tanpa buku, dengan cara:

- Merekam bahasa siswa

- Menampilakn gambar sambil bercerita

- Membaca gambar

- Membaca gambar dengan kartu kalimat

- Membaca kalimat secara struktual (S)

- Proses Analitik (A)

- Proses Sintetik (S)

2. Tahap dengan buku, dengan cara:

- Membaca buku pelajaran

- Membaca majalah bergambar

- Membaca bacaan yang disususn oleh guru dan siswa.

- Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara berkelopok.

- Membaca bacaan yang disusun oleh siswa secara individual.

Metode ini yang dipandang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa adalah metode SAS menurut Supriyadi dkk (1992). Alasan mengapa metode SAS ini dipandang baik adalah:

  • Metode ini menganut prinsip ilmu bahasa umum, bahwa bentuk bahasa yang terkecil adalah kalimat.
  • Metode ini memperhitungkan pengalaman bahasa anak.
  • Metode ini menganut prinsip menemukan sendiri.

Kelemahan metode SAS, yaitu:

  • Kurang praktis
  • Membutuhkan banyak waktu
  • Membutuhkan alat peraga

 

 Pengertian menulis permulaan

Menulis adalah melahirkan pikiran atau gagasan (seperti mengarang,membuat surat) dengan tulisan (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1993:968) menurut pengertian ini menulis merupakan hasil, yaitu melahirkan pikiran dalam perasaan kedalam tulisan. Menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca (Tarigan, 1986:21).

Dari pengertian menulis tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah proses mengungkapkan gagasan, pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan.

 

Metode dan pembelajaran menulis permulaan

a. Metode Eja

Metode eja di dasarkan pada pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkaikan menjadi suku kata. Oleh karena itu pengajaran dimulai dari pengenalan huruf-huruf. Demikian halnya dengan pengajaran menulis di mulai dari huruf lepas, dengan langka-langkah sebagai berikut:

1). Menulis huruf lepas

2). Merangkaikan huruf lepas menjadi suku kata

3). Merangkaikan suku kata menjadi kata

4). Menyusun kata menjadi kalimat (Djauzak, 1996:4)

b. Metode kata lembaga

Metode kata lembaga di mulai mengajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1). Mengenalkan kata

2). Merangkaikan kata antar suku kata

3). Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya

4). Menggabungkan huruf menjadi kata (Djauzak, 1996:5)

c. Metode Global

Metode global memulai pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan membaca kalimat secara utuh yang ada di bawah gambar. Menguraikan kalimat dengan kata-kata, menguraikan kata-kata menjadi suku kata (Djauzak, 1996:6).

d. Metode SAS

Menuryut (Supriyadi, 1996: 334-335) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita di sertai dengan gambar yang didalamnya terkandung unsur analitik sintetik. Metode SAS menurut (Djuzak,1996:8) adalah suatu pembelajaran menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan menampil cerita yang diambil dari dialog siswa dan guru atau siswa dengan siswa. Teknik pelaksanaan pembelajaran metode SAS yakni keterampilan menulis kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat, sementara sebagian siswa mencari huruf, suku kata dan kata, guru dan sebagian siswa menempel kata-kata yang tersusun sehingga menjadi kalimat yang berarti (Subana). Proses operasional metode SAS mempunyai langkah-lagkah dengan urutan sebagai berikut:

a. Struktur yaitu menampilkan keseluruhan.

b. Analitik yatu melakukan proses penguraian.

c. Sintetik yaitu melakukan penggalan pada struktur semula.

Demikian langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam pembelajaran menulis permulaan dengan metode SAS, sehingga hasil belajar itu benar-benar menghasilkan struktur analitik sintetik (Subana:176).

 

Penerapan Metode Pembelajaran MMP

Bagi siswa kelas rendah (I dan II), penting sekali guru menggunakan metode membaca. Depdiknas (2000:4) menawarkan berbagai metode yang diperuntukkan bagi siswa permulaan, antara lain: metode eja/bunyi, metode kata lembaga, metode global, dan metode SAS

Metode eja adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah. Siswa mulai diperkenalkan dengan lambang-lambang huruf. Pembelajaran metode Eja terdiri dari pengenalan huruf atau abjad A sampai dengan Z dan pengenalan bunyi huruf atau fonem. Metode kata lembaga didasarkan atas pendekatan kata, yaitu cara memulai mengajarkan membaca dan menulis permulaan dengan menampilkan kata-kata. Metode global adalah belajar membaca kalimat secara utuh. Adapun pendekatan yang dipakai dalam metode global ini adalah pendekatan kalimat. Selanjutnya, metode SAS didasarkan atas pendekatan cerita.

Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan pada siswa kelas rendah (I dan II) di sekolah dasar. Guru dianjurkan memilih salah satu metode yang cocok dan sesuai untuk diterapkan pada siswa. Menurut hemat penulis, guru sebaiknya mempertimbangkan pemilihan metode pembelajaran yang akan digunakan sebagai berikut:

  1. Dapat menyenangkan siswa
  2. Tidak menyulitkan siswa untuk menyerapnya
  3. Bila dilaksanakan, lebih efektif dan efisien
  4. Tidak memerlukan fasilitas dan sarana yang lebih rumit

Salah satu metode pembelajaran membaca permulaan yang akan diangkat dalam tulisan ini adalah metode membaca global. Menurut Purwanto (1997:32), “Metode global adalah metode yang melihat segala sesuatu sebagai keseluruhan. Penemu metode ini ialah seorang ahli ilmu jiwa dan ahli pendidikan bangsa Belgia yang bernama Decroly.” Kemudian Depdiknas (2000:6) mendefinisikan bahwa metode global adalah cara belajar membaca kalimat secara utuh. Metode global ini didasarkan pada pendekatan kalimat. Caranya ialah guru mengajarkan membaca dan menulis dengan menampilkan kalimat di bawah gambar. Metode global dapat juga diterapkan dengan kalimat tanpa bantuan gambar. Selanjutnya, siswa menguraikan kalimat menjadi kata, menguraikan kata menjadi suku kata, dan menguraikan suku kata menjadi huruf.

Langkah-langkah penerapan metode global adalah sebagai berikut:

1) Siswa membaca kalimat dengan bantuan gambar. Jika sudah lancar, siswa membaca tanpa bantuan gambar, misalnya:

Ini nani

2) Menguraikan kalimat dengan kata-kata: /ini/ /nani/

3) Menguraikan kata-kata menjadi suku kata: i – ni na – ni

4) Menguraikan suku kata menjadi huruf-huruf, misalnya: i – n – i – n – a – n – i

 

Sumber :

Depdiknas. 2000. Metodik Khusus Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen.

Purwanto, M. Ngalim dan Djeniah. 1997. Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Rosda Jayaputra.

http://lindaajja.wordpress.com/2011/04/18/proses-membaca-dan-menulis-permulaan-pada-anak-sd-dikelas-rendah/#comment-29

http://ian43.wordpress.com/2010/09/04/penerapan-metode-pembelajaran-mmp/

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2013 in Tugas Kuliah

 

Tujuan Pendidikan

Tujuan Pendidikan

 

Pendidikan adalah proses sadar tujuan dan tujuan menentukan kea rah mana peserta didik akan dibawa. Banyak ahli pendidikan merumuskan atau mengklasifikasikan tujuan pendidikan seperti berikut :

1)   Tujuan Umum

Tujuan umum adalah tujuan pendidikan yang bersifat universal dan dirumuskan berdasar kepada hakikat manusia yaitu ”kedewasaan” dalam arti “pribadi yang integral baik segi individualitas, sosialitas, dan moralitas, atau pribadi yang bertanggung jawab secara individual, social, dam moral”.

2)   Pengkhususan Tujuan Umum

Pengkhususan tujuan umum yaitu tujuan pendidikan yang dirumuskan berdasarkan filsafat bangsa atau kebudayaan serta kepentingan bangsa,  atau atas dasar keyakinan tertentu, sehingga antara lain tercipta tujuan pendidikan nasional suatu bangsa.

3)   Tujuan Tak Lengkap

Tujuan tak lengkap adalah tujuan yang berhubungan dengan suatu aspek kepribadian tertentu seperti halnya tujuan pendidikan agama, tujuan pendidikan, tujuan pendidikan moral, tujuan pendidikan jasmani, tujuan pendidikan intelektual dan sebagainya.

4)   Tujuan Sementara

Tujuan sementara adalah tujuan pendidikan yang sementara dicapai untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, seperti: “anak dibiasakan tidak kencing ditempat tidur agar ia tahu tentang kebersihan”, anak dibiasakan disiplin menempatkan barang-barangnya ditempat tertentu atau datang dan berangkat tepat waktunya, agar kelak berdisiplin dalam segala hal. Demikian pula tamat SD merupakan tujuan sementara untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih tinggi.

5)   Tujuan Insidental

Tujuan insidental adalah suatu tujuan yang terjadi secara kebetulan. Tujuan ini adalah tujuan pendidikan yang terjadi secara khusus pada situasi tertentu. Contoh: ketika seseorang melihat seorang anak menggangu anak lain, maka ia akan menasehati anak itu agar tidak mengganggu.

6)   Tujuan Intermedier

Tujuan intermedier adalah tujuan yang merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih lanjut, seperti menguasai bahasa inggris agar dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa inggris. Dengan demikian tujuan intermedier bisa dikatakan sebagai tujuan yang berfungsi sebagai alat.

 

Selanjutnya PH Phoenik mengajukan 6 tema pokok perumusan tujuan pendidikan, yaitu:

a)    Pendidikan untuk penyesuaian diri dalam kehidupan

Tujuan ini didasarkan pada pandangan bahwa kehidupan manusia seperti makhluk yang lain harus mampu menyesuaikan diri secara memuaskan dengan lingkungan alam maupun lingkungan social agar dia dapat menyelenggarakan hidupnya dengan baik.

b)   Pendidikan untuk mengembangkan dan memantapkan kemauan intelektual

Tujuan ini menekankan pentingnya daya penalaran pada diri manusia. Penekanan tujuan pendidikan pada segi intelektual ini berkembang dari abad ke abad terutama dalam bidang kesusastraan dan kealaman.

c)    Pendidikan diarahkan untuk kematangan psikologis

Pendidikan yang ditujuakn untuk mengembangkan penalaran dan keterampilan saja akan mendorong manusia ke arah penderitaan. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya diarahkan agar terjadi keserasian dalam kejiwaan seseorang dan pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang dapat memelihara kesehatan jiwa.

d)   Pendidikan untuk pembinan watak

Pendidikan hendaknya merupakan usaha untuk mewujudkan standar etika pada seseorang. Pandangan ini didasarkan bahwa masyarakat memiliki seperangkat norma atau adat istiadat dan seseorang sebagai anggota masyarakat harus memiliki norma-norma tersebut.

e)    Pendidikan ditujukan agar suatu bangsa dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Tujuan ini didasarkan pada pandangan bahwa tidak adanya keamanan atau ketahanan terhadap serangan musuh. Dan untuk menjamin adanya ketahanan diperlukan orang-orang yang terlatih dengan baik dan ini merupakan tugas pendidikan.

f)    Pendidikan untuk kemerdekaan.

Kemerdekaan atau kebebasan adalah tujuan yang sifatnya langgeng dari kebudayaan manusia dan menjadi ukuran utama bagi tujuan suatu bangsa dalam mengembangkan diri atau mengembangkan kebudayaan .

Sesuai perkembangan yang terjadi saat ini dalam dunia pendidikan dikenal beberapa jenis tujuan, baik tujuan untuk jangka panjang (umum), tujuan antara dan tujuan yang secara hierarkis dikenal jenjang tujuan sebagai berikut:

  1. a.    Tujuan pendidikan nasional

Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan pendidikan suatu bangsa, dan bagi bangsa Indonesia tujuan ini tertuang dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 pasal 3 yang berbunyi “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

  1. b.   Tujuan institusional

Tujuan institusional adalah tujuan pendidikan dari suatu jenjang, jalur, dan jenis pendidikan tertentu, seperti halnya jenjang pendidikan SD mempunyai tujuan pendidikan tersendiri dan berbeda dari tujuan pendidikan di SMP, SMA dan seterusnya.

 

Tujuan Pendidikan SD

Sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 bahwa Pendidikan Dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk hidup di dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.

Berkenaan dengan tujuan operasional pendidikan SD, dinyatakan di dalam Kurikulum Pendidikan Dasar yaitu memberi bekal kemampuan dasar membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan dan ketrampilan dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan di SMP. Tujuan pendidikan Sekolah Dasar dapat diuraikan secara terperinci, seperti berikut :

1)   Memberikan Bekal Kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung.
Kemampuan membaca, menulis dan berhitung (Calistung) merupakan tujuan pertama dan utama sering disebut juga tujuan yang paling fundamental karena sifatnya sangat menentukan baik-tidaknya kemampuan-kemampuan lain. Kemampuan ini diwujudkan dalam kemampuan dan ketrampilan penggunaan bahasa yang meliputi membaca, menulis, berbicara, serta kemampuan berhitung yang meliputi kemampuan dan ketrampilan menambah, mengurangi, mengalikan, membagi, mengukur sederhana dan memahami bentuk geografi. Semua kemampuan ini sangat berguna dan dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka.

2)   Memberikan Pengetahuan dan Ketrampilan Dasar yang bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Ketrampilan dasar yang bermanfaat dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak SD ini sangat banyak, meliputi pengetahuan dan ketrampilan intelektual, sosial dan personal. Menurut Ahman (2000) tujuan pendidikan SD tidak lagi menyiapkan siswa untuk terjun ke masyarakat, melainkan menyiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Perubahan ini sejalan dengan perubahan orientasi perkembangan anak. Oleh karena lulusan SD tidak semata-mata mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung, melainkan menyiapkan siswa untuk memiliki kemampuan intelektual, pribadi dan sosial.

3) Mempersiapkan Siswa untuk Mengikuti Pendidikan di SLTP.

Kegiatan untuk mencapai tujuan ketiga ini tidak dapat dipisah-pisahkan dengan upaya pencapaian kedua tujuan sebelumnya. Banyak upaya yang dilakukan oleh guru, antara lain memberi informasi lisan dan tertulis kepada siswa kelas 5 dan 6, mengadakan diskusi alumni SD, mengadakan kunjungan ke SMP terdekat, dan sebagainya. Karena pada 2 atau 3 tingkat kelas terakhir di SD perlu lebih ditekankan pada pembinaan pemahaman dan penghayatan dasar akan ilmu pengetahuan dan teknologi secara sederhana, tetapi sistematik. Landasan semacam itu diperlukan untuk mencapai keberhasilan di tingkat SMP.

 

Tujuan Pendidikan Menengah

Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Tujuan Pendidikan di Perguruan Tinggi

Tujuan Pendidikan Tinggi Menurut  PP No. 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (PT), Pasal 2, adalah :

  1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian;
  2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
    1. Tujuan kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang berhubungan dengan setiap bidang studi dalam arti rumusan tujuan kurikuler adalah rumusan tujuan yang diharapkan tercapai setelah siswa mempelajari bidang studi yang bersangkutan.

Contoh tujuan pendidikan kurikuler untuk bidang studi IPA di SD berbunyi :

  1. Mengenal, memahami dan mampu menggunakan konsep dasar IPA yang berguna (praktis).
  2. Mengenal dan memahami hubungan timbale balik antara berbagai makhluk hidup dan benda mati dalam hubunganna dengan kehidupan manusia.
  3. Memiliki keterampilan dengan menggunakan metode ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari
  4. Memiliki sifat ilmiah
  5. Menghargai alam dan mengagungkan penciptaNya.
  6. Menyadari pentingnya pengetahuan alam bagi pembangunan nusa dan bangsa.
  7. Tujuan pengajaran umum

Tujuan pengajaran umum merupakan penjabaran dari tujuan kurikuler yang kalau ditinjau dari cakupan materinya merupakan tujuan untuk pokok bahasan tertentu. Dalam merumuskan tujuan pengajaran umum ditentukan beberapa criteria, di antaranya:

  1. Berorientasi pada siswa
  2. Merupakan hasil belajar
  3. Masih diperkenankan memakai kata non-operasional
  4. Tujuan pengajaran khusus

Tujuan pengajaran khusus adalah tujuan yang terkecil yang merupakan tujuan yang diharapkan berkembang dan dirumuskan dengan criteria sebagai berikut:

  1. Merupakan penjabaran tujuan pengajaran umum.
  2. Merupakan indicator terpilih dari tujuan pengajaran umum.
  3. Dirumuskan sebagai hasil belajar,
  4. Memakai istilah-istilah/ kata-kata operasional.
  5. Spesifik.
 
2 Comments

Posted by on February 27, 2013 in Tugas Kuliah

 

Pendidikan di Indonesia

 BAB II

PEMBAHASAN

2.1    Ciri-Ciri Pendidikan di Indonesia

Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikan-pendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi, melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat, melalui kehidupan beragama di asrama-asrama, lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi, melalui radio, surat kabar dan sebagainya. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa.

Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal, pemecahan berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.

 

2.2 Kualitas Pendidikan di Indonesia

Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun.

Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.

2.3   Permasalahan Teoritis

Permasalahan teoritis akibat perbedaan ilmu-ilmu pendukung yang di gunakan dan juga akibat perbedaan konsep dalam ilmu-ilmu pendukung tersebut. Sebagian pemikir pendidikan hanya memasukkan filsafat, psikologi, dan sosiologi dalam menyusun konsep dan merancang pelaksanaan pendidikan, sedangkan beberapa pemikir lain menggunakan acuan lain, seperti poltik, ekonomi, IPTEKS, dan sebagainya.

Perbedaan dalam talaah filsafat misalnya, pandangan terhadap peserta didik. Ada yang berpandangan manusia tidak perlu di didik, karena sudah ditentukan oleh bakatnya (NATIFISME), ada yang menggunakan pandangan bahwa manusia harus di didik (EMPIRISME), dan ada yang memandang manusia di tentukan oleh bakat dan lingkungannya (KONVERGENSI). Sudut pandang yang berbeda ini akan berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan dan pembuatan rancangan dan pelaksanaan pendidikan

Perbedaan pendapat dalam psikologi punya pengaruh yang sama seperti pengaruh perbedaan pendapat. Keputusan kebijakan tantang tujuan pendidikan, materi, metode, evaluasi, dan sebagainya akan berbeda kalua pemikiran pendidikan menggunakan dasar psikologi yang behavioristik akan menggunakan dasar pandangan kognitif. Pandangan psikologi yang behavioristik lebih menekankan sasaran pendidikan ada pembentukan tingkah laku obyektif dan menggunakan metode yang mekanis sedangkan pandangan yang kognitif menekankan pada pendidikan kemampuan jiwa yang tidak nampak dan lebih menekankan pada pemahaman. Perbedaan sudut pandang di bidang [sikologi ini juga merupakan penyebab munculnya permasalahan yang sampai saat ini belum dapat di atasi.

Umar Tirtaraharja dalam penemuan FIP di Makassar tahun 2001 memandang perbedaan sudut pandang yang menyebabkan terjadinya penyelenggaraan pendidikan yang di aktakan sebagai kesalahan filosofis. Menurut tokoh ini ada lima jenis kesalahan yaitu :

  1. Kesalahan teknis, misalnya pandangan yang mengatakan bahwa disiplin hanya dapat di didik melalui kekerasan
  2. Kesalahan sistematis, misalnya pandangan bahwa tempat belajar yang paling afdol adalah sekolah
  3. Kesalahan teoritis, misalnya mengajar adalah memberikan ilmu
  4. Penerapan yang salah, misalnya pandagan bahwa semakin banyak ilmu semakin membuat orang bahagia
  5. Kesalahan filosofis, misalnya pandangan bahwa kesuksesan seseorang tergantung pada aspek ketrampilan yang di peroleh (mengabaikan aspek moral)

 

Di bagian lain Tirtaraharja mengklasifikasikan masalah-masalah pendidikan tersebut menjadi tiga kelom[pok yaitu :

  1. Masalah operasional, masalah yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan , misalnya kesalahan pemilihan metode mengajar, memilihg dan ataumenggunakan media, dan sebagainya
  2. Masalah struktural, atau mungkin dpat disebut masalah manajemen, mislanya masalah sistem pendidikan yang di gunakan misalnya, korsinasi,kebijakan,dan sebagainya.
  3. Masalah fundamental, misalnya yang mendasar ,misalnya masalah Teoritis, Filosofis, dan sebagainya.

2.4   Permasalahan Praktis

Permasalahan praktis pendidikan, di samping akibat tegangan teoritik yang tidak jelas seperti yang diuraikan di atas, timbul karena kondisi dan tuntutan dari faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan yaitu :

  1. Pengaruh Perkembangan IPTEKS

Terdapat korelasi antara perkembangan pendidikan dengan perkembangan IPTEKS. Ilmu pengetahuan merupakan hasil dari eksplorasi dan pembaharuan secara sistemik dan terorganisir dengan baik, mengenai alam semesta. Adapun teknologi adalah penerapan yang dirancang dan terencana dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi hajat hidup manusia. Sedangkan seni adalah kemajuan kebudayaan berupa aktivitas manusia Perkembangan IPTEKS mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin rumusan baru tujuan pendidikan selalu membutuhkan inovasi, termasuk sarana dan prasarana laboratoium, dan ketenagaan serta pendanaan pendidikan.

 

  1. Pengaruh Pertambahan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk akan menimbulkan masalah dalam pendidikan. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali mengakibatkan penyediaan layanan pendidikan berupa sarana prasarana pendidikan beserta komponennya juga bertambah. Pertambahan penduduk yang dibarengi dengan meningkatnya usia rata-rata dan penurunan angka kematian serta panjangnya usia rata-rata manusia mengakibatkan berubahnya struktur kependudukan.

  1. Peningkatan Aspirasi Masyarakat

Aspirasi masyarakat terhadap pendidikan semakin meningkat. Misalnya aspirasi terhadap ilmu pengetahuan, pendidikan, hidup sehat, lingkungan, pekerjaan, teknologi dan seni, kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan aspirasi terhadap pendidikan. Akibat dari meningkatnya aspirasi masyarakat ini membanjirnya pelamar sekolah dan arus pelajar meningkat secara drastis. Sedangkaty fasilitas sekolah berkembang lambat. Dampaknya anggaran pendidikan harus meningkat untuk menyediakan fasilitas pendidikan beserta komponen lainnya.

  1. Problem Dana

Kekurangan dana merupakan problem klasik yang dialami oleh semua negara berkembang dalam melaksanakan program pendidikan. Keadaan akan semakin parah apabila mengabil kebikajan tidak atau kurang menempatkan posisi pendidikan bukan sebagai prioritas. Memang kebanyakan pemimpin setuku kalau pendidikan merupakan kunci keberhasilan pembangunan karena menyangkut sumber daya manusia, tetapi dalam praktek masih lebih memprioritaskan aspek pembangunan yang baik. Bagaimana pendidikan dapat berhasil dengan baik kalau sarana pendidikan tidak memadai.

  1. Belum Adanya Sistem Menejemen yang Mantap

Menejemen pendidikan di Indonesia masih termasuk menejemen yang kerang mantap. Dengan indikator masih seringnya perubahan struktur organisasi pendidikan, kurang koordinasinya lembaga-lembaga pendidikan , arah pendidikan yang kurang jelas, perubahan kurikulum yang tidak jelas landasannya, pembinaan karir paran penyelenggara pendidikan yang belum mantap, penggunaan anggaran yang kurang efisien, dan sebagainya.

  1. Munculnya Konsep-Konsep Baru

Banyak konsep yang dulunya belum mendapat perhatian sekarang mau tidak mau harus dipakai acuan dalam berpikir dan berbuat dalam pendidikan. Konsep baru tentang demokrasi, hak asasi manusia, otonomi, keragaman budaya, masyarakat madani, tuntutan global, peran politik, dll. Kalau pendidikan memang merupakan sarana untuk mengembangkan sumber daya manusia dan pengembangan masyarakat, maka konsep-konsep baru tersebut mau tidak mau harus digunakan dalam berpikir dan berbuat di kalangan pemikir dan pelaksana pendidikan.

2.5    Masalah Pendidikan di Indonesia

Masalah pendidikan di Indonesia antara lain :

a. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.

Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah.

Dalam pendidikan di sekolah menegah misalnya, seseorang yang mempunyai kelebihan dibidang sosial dan dipaksa mengikuti program studi IPA akan menghasilkan efektifitas pengajaran yang lebih rendah jika dibandingkan peserta didik yang mengikuti program studi yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Hal-hal sepeti itulah yang banyak terjadi di Indonesia. Dan sayangnya masalah gengsi tidak kalah pentingnya dalam menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan di Indonesia.

 

b. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.

Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.

Jika kita berbicara tentang biaya pendidikan, kita tidak hanya berbicara tenang biaya sekolah, training, kursus atau lembaga pendidikan formal atau informal lain yang dipilih, namun kita juga berbicara tentang properti pendukung seperti buku, dan berbicara tentang biaya transportasi yang ditempuh untuk dapat sampai ke lembaga pengajaran yang kita pilih. Di sekolah dasar negeri, memang benar jika sudah diberlakukan pembebasan biaya pengajaran, namun peserta didik tidak hanya itu saja, kebutuhan lainnya adalah buku teks pengajaran, alat tulis, seragam dan lain sebagainya yang ketika kami survey, hal itu diwajibkan oleh pendidik yang berssngkutan. Yang mengejutkanya lagi, ada pendidik yang mewajibkan les kepada peserta didiknya, yang tentu dengan bayaran untuk pendidik tersebut.

Selain masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, masalah lainnya adalah waktu pengajaran. Dengan survey lapangan, dapat kita lihat bahwa pendidikan tatap muka di Indonesia relative lebih lama jika dibandingkan negara lain. Dalam pendidikan formal di sekolah menengah misalnya, ada sekolah yang jadwal pengajarnnya perhari dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri sampai pukul 16.00.. Hal tersebut jelas tidak efisien, karena ketika kami amati lagi, peserta didik yang mengikuti proses pendidikan formal yang menghabiskan banyak waktu tersebut, banyak peserta didik yang mengikuti lembaga pendidikan informal lain seperti les akademis, bahasa, dan sebagainya. Jelas juga terlihat, bahwa proses pendidikan yang lama tersebut tidak efektif juga, karena peserta didik akhirnya mengikuti pendidikan informal untuk melengkapi pendidikan formal yang dinilai kurang.

Selain itu, masalah lain efisiensi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.

Yang kami lihat, kurangnya mutu pengajar disebabkan oleh pengajar yang mengajar tidak pada kompetensinya. Misalnya saja, pengajar A mempunyai dasar pendidikan di bidang bahasa, namun di mengajarkan keterampilan, yang sebenarnya bukan kompetensinya. Hal-tersebut benar-benar terjadi jika kita melihat kondisi pendidikan di lapangan yang sebanarnya. Hal lain adalah pendidik tidak dapat mengomunikasikan bahan pengajaran dengan baik, sehingga mudah dimengerti dan menbuat tertarik peserta didik.

Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.

Konsep efisiensi akan tercipta jika keluaran yang diinginkan dapat dihasilkan secara optimal dengan hanya masukan yang relative tetap, atau jika masukan yang sekecil mungkin dapat menghasilkan keluaran yang optimal. Konsep efisiensi sendiri terdiri dari efisiensi teknologis dan efisiensi ekonomis. Efisiensi teknologis diterapkan dalam pencapaian kuantitas keluaran secara fisik sesuai dengan ukuran hasil yang sudah ditetapkan. Sementara efisiensi ekonomis tercipta jika ukuran nilai kepuasan atau harga sudah diterapkan terhadap keluaran.

Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Efektivitas merupakan bagian dari konsep efisiensi karena tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harganya. Apabila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka suatu program pendidikan yang efisien cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien. Program pendidikan yang efisien adalah program yang mampu menciptakan keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan sehingga upaya pencapaian tujuan tidak mengalami hambatan.

 

c. Standarisasi Pendidikan Di Indonesia

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.

Dunia pendidikan terus berubah. Kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat terus-menertus berubah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam era globalisasi. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.

Seperti yang kita lihat sekarang ini, standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standard dan kompetensi di dalam berbagai versi, demikian pula sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.

Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Selain itu, akan lebih baik jika kita mempertanyakan kembali apakah standar pendidikan di Indonesia sudah sesuai atau belum. Dalam kasus UAN yang hampir selalu menjadi kontrofesi misalnya. Kami menilai adanya sistem evaluasi seperti UAN sudah cukup baik, namun yang kami sayangkan adalah evaluasi pendidikan seperti itu yang menentukan lulus tidaknya peserta didik mengikuti pendidikan, hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalu peserta didik yang telah menenpuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlanhsug sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi 3 bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah didikuti oleh peserta didik.

Banyak hal lain juga yang sebenarnya dapat kami bahas dalam pembahasan sandardisasi pengajaran di Indonesia. Juga permasalahan yang ada di dalamnya, yang tentu lebih banyak, dan membutuhkan penelitian yang lebih dalam lagi

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

 

 

d. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

 

e. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

 

f. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).

 

g. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

h. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

i. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

j. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

k. Perilaku Menyimpang Siswa/Mahasiswa

a. Mencontek

”Menyontek” adalah salah satu wujud perilaku dan ekspresi mental seseorang. Ia bukan merupakan sifat bawaan individu, tetapi sesuatu yang lebih merupakan hasil belajar/pengaruh yang didapatkan seseorang dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, ”menyontek” lebih sarat dengan muatan aspek moral daripada muatan aspek psikoligis.
Dalam batas-batas tertentu ”menyontek: dapat dipahami sebagai sesuatu fenomena yang manusiawi, artinya perbuatan ”menyontek” bisa terjadi pada setiap orang sehingga asumsi di depan yang menyatakan bahwa ada korelasi antara perilaku ”menyontek” di sekolah dengan perilaku kejahatan seperti korupsi di masyarakat adalah terlalu spekulatif dan sulit dibuktikan secara nalar ilmiah. Meskipun demikian tak dapat disangkal bahwa ”menyontek” bisa membawa dampak negatif baik kepada individu, maupun bagi masyarakat. Dampak negatif bagi individu akan terjadi apabila praktek ”menyontek” dilakukan secara kontinyu sehingga menjurus menjadi bagian kepribadian seseorang. Selanjutnya, dampak negatif bagi masyarakat akan terjadi apabila masyarakat telah menjadi terlalu permisif terhadap praktek ”menyontek” sehingga akan menjadi bagian dari kebudayaan, dimana nilai-nilai moral akan terkaburkan dalam setiap aspek kehidupan dan pranata sosial.
Sebagai bagian dari aspek moral, maka terjadinya ”menyontek” sangat ditentukan oleh faktor kondisional yaitu suatu situasi yang membuka peluang, mengundang, bahkan memfasilitasi perilaku ”menyontek”. Seseorang yang memiliki nalar moral, yang tahu bahwa ”menyontek” adalah perbuatan tercela, sangat mungkin akan melakukannya apabila ia dihadapkan pada kondisi yang memaksa.
Mencegah ”menyontek” tidaklah cukup dengan sekedar mengintervensi aspek kognitif seseorang, akan tetapi yang paling penting adalah penciptaan kondisi positif pada setiap faktor yang menjadi sumber terjadinya ”menyontek”, yaitu pada faktor siswa/ mahasiwa, pada lingkungan, pada sistem evaluasi dan pada diri guru/dosen.
Oleh karena setiap orang berpotensi untuk melakukan ”menyontek” dan terdapatnya gejala kecenderungan semakin maraknya praktek menyontek di dunia pendidikan, maka perlu segera dilakukan review atau reformulasi sistem atau cara pengujian, penyelenggaraan tes yang berlangsung selama ini baik yang diselenggarakan secara massal oleh suatu badan atau kepanitiaan maupun yang diselenggarakan secara individual oleh setiap guru atau dosen.

 

b. Tawuran

Memang tidak semua pelajar gemar tawuran. Sebagian besar masih fokus menjalankan tugas belajar. Sebagian lainnya malah mengukir prestasi hingga tingkat internasional. Namun, di kota-kota besar, fenomena tawuran pelajar tetap saja mendominasi berita di layar kaca maupun media cetak dan online.

Memang bukan perkara mudah menghentikan budaya tawuran. Pasalnya, tawuran terkait juga dengan maraknya budaya premanisme yang sudah menjerat negeri ini di segala aspek. Jadi,faktor di luar pendidikan ikut memicu lahirnya budaya premanisme di sekolah. Karena itu, semua pihak harus ikut ambil bagian dalam memberantas budaya tawuran pelajar di negeri ini.

Pemerintah berperan menghapuskan tayangan berbaru kekerasan yang merajalela di layar kaca. Sudah tugas negara untuk menjaga mental rakyatnya dari informasi media massa yang merusak. Sedangkan pihak sekolah bertanggung jawab untuk membentengi anak didik dari perilaku barbar, dengan lebih banyak menggelar kegiatan yang bermanfaat, terutama di bidang kerohanian.

Bagaimanapun, guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Ia bukan hanya bertugas mengajar di kelas, tapi juga membimbing murid-muridnya di luar sekolah. Saat teladan guru hilang, siswa sekolah pun menjadi beringas. Buntutnya, tawuran pun kerap terjadi.

2.6     Usaha-Usaha Mengatasi Masalah Pendidikan

Untuk mengatasi masalah-masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).

Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:

  • Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka partisipasi.
  • Langkah kedua, menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan di desa dan kota, serta jender.
  • Langkah ketiga, meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen, serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
  • Langkah keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan.
  • Langkah kelima, pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
  • Langkah keenam, pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan Rp 44 triliun.
  • Langkah ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.
  • Langkah terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan.

BAB III

PENUTUP

3.1     Kesimpulan

Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang menjadi penyebabnya yaitu:

  1. Rendahnya sarana fisik,
  2. Rendahnya kualitas guru,
  3. Rendahnya kesejahteraan guru,
  4. Rendahnya prestasi siswa,
  5. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
  6. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
  7. Mahalnya biaya pendidikan.

Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

3.2     Saran

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://hasqial.blogspot.com/2011/01/budaya-mencontek.html

http://sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia/

http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/14/ciri-ciri-dan-masalah-pendidikan-di-indonesia/

http://meilanikasim.wordpress.com/2009/03/08/makalah-masalah-pendidikan-di-indonesia/

http://kawansejati.ee.itb.ac.id/masalah-pendidikan-masa-kini

Roesminingsih MV, Lamijan Hadi Susarno. 2011. Teori dan Praktek Pendidikan. Surabaya: Bintang Surabaya.

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2013 in Tugas Kuliah

 

Little Story About You III

Masih erat dalam hatiku

Namamu yang baru kutahu

Masih jelas dalam anganku

Wajahmu yang baru kulihat

Istimewa dirimu dalam pandanganku

Hingga akhirnya ku akui

Aku terpesona…

Kutemukan sisi lain disini

Kepingan sayang untukmu

Yang tersusun rapi di hati

Dan slalu kucoba menepisnya

Walau teramat sulit

Karna aku takut…

Aku takut kecewa

Sebab aku sendiri yang merasakannya

 

Created: 31/12/2010

 

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2012 in Sepenggal Kisah

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.